WHAT'S NEW?
Loading...
Showing posts with label dian yuanita. Show all posts
Showing posts with label dian yuanita. Show all posts

22 Februari 2015
08.11 WIB
FEB UGM, lantai 3

Pagi ini bak sadarkan, dipukul, dikeplak, oleh pemandangan maha menakjubkan.

Aku berdiri lemas, tidak tenang dibibir balkon depan ruang kelas. Di tengah gaungan suara teman-teman Mawapres UGM 2015 tingkat fakultas yang tengah serius mendalami dan mempelajari materi presentasi karya tulis ilmiah. Aku sudah menyempatkan diri untuk belajar juga, seperti mereka, sebenarnya. Tetapi entah, batinku ini tak menentu rasanya. Butuh inspirasi pagi.

Mataku memandang nyalang taman tengah FEB dari lantai 3. Dan kemudian tertegun oleh burung yang melintas tepat di depan pandanganku. Ada sehelai daun yang cukup panjang di paruhnya. Aku mengamati gerak-gerik si burung. Kali ini aku sungguh antusias.

Burung tadi hinggap pada dahan pohon palm. Eh rupanya dia tidak sendirian disana. Wah tidak jomblo! Mungkin dia sudah get married. Seekor burung yang lain telah menunggu kedatangannya. Kemudian suatu menakjubkan terjadi.

Burung yang menanti kehadiran burung pembawa daun tadi lantas dengan sigap mengambil ujung daun yang lain. Keduanya menarik-narik daun yang digigit di paruhnya secara bersamaan. Kemudian satu burung meletakkannya pada semacam kumpulan daun kering yang sudah membentuk lingkaran yang pipih. Oh oh! I got it! Daun itu semacam disobek menjadi bagian-bagian kecil dan panjang, kemudian dirangkai sedemikian rupa dan setelah sekian lama, jadilah sarang! :D

Masya Allaah!
Ini kali pertama seumur hidup melihat dan mengerti langsung pembuatan sarang burung oleh burungnya sendiri *haha.
Senyum mengembang di bibirku usai melihat pemandangan itu. Tunggu, tak sampai disitu.

Accident terjadi. Daun yang ditarik-tarik oleh paruh kedua burung tadi terjatuh, terhempas ke tanah. Duh, aku bisa merasakan hancurnya perasaan si burung saat itu. Kupikir si burung akan membiarkannya terjatuh begitu saja. Ternyata tidak!

Satu burung dari mereka terbang ke bawah, menggigit daun dengan paruhnya kemudian terbang lagi ke atas. Hoh, mulai bergidik aku saat itu. Pandanganku kupertajam, sangat meyakini pasti akan ada kejadian lebih luar biasa dari yang kulihat tadi.

Di saat burung itu kembali pada kawannya yang tengah menantinya di dahan, nahas daun itu terjatuh lagi, terhempas ke tanah lagi. Dan burung itu dengan cepat terbang ke bawah lagi, mengambil daun palm yang akan menjadi penyusun sarangnya. Kemudian dibawanya terbang ke dahan yang sama. Di saat paruh burung kawannya hendak menggigit ujung daun yang lain, nahas lagi, daun itu jatuh lagi! Dan si burung terbang lagi ke bawah, mengambil daun dengan paruhnya dan terbang lagi.

Belum sampai pada dahan yang dituju, daun yang digigit di paruhnya terhempas ke bawah. Masya Allaah. Dan si burung yang mengetahui hal itu lantas terbang lagi ke bawah, berusaha mengambil daun itu. Kejadian luar biasa terjadi lagi.

Kupikir burung itu akan mengambil daun yang sudah jatuh berulang-ulang tadi. Ternyata tidak. Burung itu terbang rendah ke sisi taman yang lain, kulihat dia menggigit satu daun yang berbeda. Kali ini lebih pendek ukuran dan lebih kering daunnya dibanding dengan daun yang sebelumnya. Dibawanya daun itu terbang, menghampiri kawannya yang tengah menanti dari tadi. Dan pemandangan tarik menarik daun antara dua burung terjadi lagi.

Seketika itu juga air mataku berlinang. Duh, dasar aku cengeng. Gampang nangis, gampang terharu, gampang galau. Pemandangan tadi begitu meresapkan mata. Begitu indah! Aku benar-benar bersyukur, karena saat itu juga aku tersadar, semangatku meletup. Bahwa, jika hanya seekor burung yang hanya punya paruh dan kaki untuk membangun sarang yang bisa dibilang juga termasuk masa depannya, mereka mampu dan sangat pantang menyerah. Mengapa aku yang punya panca indra lengkap ditambah akal pikiran dan perasaan, tidak bersyukur?

Terbukti dengan pagi ini yang tiba-tiba saja aku down karena persiapan presentasi karya ilmiah yang kurasa kurang. Wait. Harusnya aku semangat! Perjuangan belum berakhir. Apapun yang terjadi, yang terpenting diusahakan dengan semaksimal mungkin dahulu, kan?. Hei kenapa aku kehilangan prinsip hidupku yang ini?

Aku menghapus air mata yang berlinang hebat, secara diam-diam. Batinku makin tak tenang. Pada akhirnya kuputuskan untuk shalat dhuha. Memasrahkan segala sesuatu yang akan terjadi di depan pada Allah, di tengah usahaku yang sudah kulakukan sejak lampau.

Saat aku bersujud, aku teringat betapa usaha yang kulakukan di masa lampau penuh dengan lika liku. Aku saat ini, adalah akumulasi aku di masa lalu. Sejak semester I di bangku kuliah aku telah berkegiatan dengan cukup padat. Tak hanya sebatas organisasi, pengembangan softskill, tapi juga lomba - lomba. Itu semua bukan kumaksudkan untuk tujuan agar mempertebal CV atau hanya mengikutkan diri pada ajang Mahasiswa Berprestasi. BUKAN!

Itu semua kulakukan dengan sadar adanya. Sadar untuk masa depanku yang lebih baik, sadar untuk mengangkat martabat keluarga, sadar untuk menjadi pribadi yang harus selalu memberi manfaat, sadar untuk membuat mama, single parent paling hebat di dunia, semakin bahagia. Masa depan dibangun dari masa lampau, bukan?

Terisak aku dalam sujudku yang cukup lama. Aku sungguh tiada apa-apanya. Maka dari itu aku harus terus berusaha, untuk apapun itu.

Seketika itu juga, batinku merasa jaaauuuuh, jauuuhhh tenang dari sebelumnya. Hatiku tertata. Semangat baru menyala. Dan pada akhirnya, aku menuai inspirasi yang sangat berharga dalam hidup, yang mambawaku untuk tak gentar menghadapi perjuangan hingga akhir.

Ini bukan ambisi, tapi perjuangan untuk mempertaruhkan kualitas diri. Aku membayangkan jika aku leda - lede, maka semuanya akan berantakan dan kualitas diri yang sejak lama kubangun akan runtuh sudah. Juga tentu akan merusak image mahasiswa Fakultas Kehutanan karena aku adalah salah satu representasi mereka dalam seleksi ini. Tidak, aku tidak ingin merusak.

Dan inspirasi pagi ini, menjadi salah satu pengantar atas rahmat Allah yang tak terkira ini. Semoga Allah menguatkan dan melancarkan segala proses yang ada di depan. Salah satunya proses menuju Seleksi Final Mawapres UGM 2015. Aamiin.

Terlepas dari itu, sampai pada seleksi ini, benar-benar kado Allah yang Maha Indah. Jadi ini adalah kado, bukan tujuan.

Foto bersama 10 Mahasiswa Berprestasi UGM 2015 (2 tidak hadir saat pengumuman karena suatu acara). Ada 36 mahasiswa yang mengikuti seleksi. Mengenai aku yang termasuk 10 besar, ini pasti faktor keberuntungan.
Karena ke 35 mahasiswa yang lain, jauh lebih hebat dariku.
Dokumen: Syabilla Rivenia, Mawapres 1 Fakultas Kedokteran Hewan UGM


--------------------------
Untuk kalian yang jadi korban broken home, ditinggal salah satu orangtua karena hal yang lebih membahagiakan. Jangan bersedih! Jangan menyimpang! Hidup ini penuh ujian. Dan juga penuh kebahagiaan!
-------------------------

Ditulis Senin, 23 Februari 2015 pukul 03.30 pagi WIB.



-DULU-
Seringkali pertanyaan beberapa teman di kampus muncul,

"Hei, sibuk banget sih. Besok ikut main, yuk?"
"Deuuh, Dian.. Anak gelanggangan banget, ya. Sibuk banget."
"Yan, mbok leren sik. Rupamu pucet."
"Yan, mbok golek pacar. Ben nek neng ngendi-ngendi ora nyilih pit kampus."
dan pertanyaan lain yang pada intinya bak mencapku habis-habisan aku adalah orang yang sibuk. Tidak ada waktu untuk berha-ha-hi-hi, tidak ada waktu untuk memanjakan diri, tidak ada waktu untuk rehat.

-SEKARANG-
Tepat sesaat peralihan semester 5 ke semester 6,

"Wah, nggak sibuk lagi sekarang?"
"Nggak ngegelanggang lagi sekarang?"
"Wah, ajiib. Dian mulai selow."
"Kapan nikah, Yan?" *abaikan*
dan pertanyaan lain yang pada intinya berkesimpulan pada aku sudah tidak punya kesibukan lagi.

Pertanyaan-pertanyaan atau -sekedar- celetukan mereka kerap dilontarkan secara langsung saat kebetulan bertemu. Ada juga yang memang niat nyeletuk sedemikian rupanya, PM saya lewat medsos bahkan sms. (!)
Ini sungguh mengejutkan dan membahagiakan. Bahwa ternyata lumayan banyak juga yah yang menaruh perhatian pada saya *ketawa mringis*.


"Setiap waktu, setiap detik dalam setiap menit, setiap menit dalam setiap jam, setiap jam dalam setiap hari, setiap hari dalam setiap bulan (sila lanjutkan sendiri), kita akan terus ditagih oleh suatu hal. Apapun itu."

Sengaja saya pilih diksi "ditagih" bukan "dituntut". Mengapa?
Kata dasar tagih berarti kita semacam dikondisikan untuk terus memberi. Ditagih berarti kita memiliki hutang. Hutang apa? Banyak. (!)
Tuhan telah mencipta kita dengan keadaan terbaik. Sepanjang hidup, untuk memperbaiki keadaan tersebut, kita harus(nya) melakukan suatu aksi atau usaha atas diri kita untuk hidup kita sendiri. Dan kalau bisa sih juga untuk kemaslahatan banyak orang. 
Sedangkan dituntut, seolah otak merespon adanya energi yang tidak positif, kurang adanya energi positif yang dapat diambil. Dituntut seolah kita bekerja karena keadaan, bukan bekerja untuk keadaan.

Sedikit gambaran yang bisa saya jelaskan disini. 
Saat kita duduk di bangku sekolah kelas 2 SD. Mampu calistung (baca, tulis, hitung) adalah kemampuan final yang wajib kita miliki. Ya, di penghujung kelas 2 SD, kita seolah ditagih untuk memiliki kemampuan calistung. Jika tak kunjung mampu? Tinggal kelas.
Beranjak di kelas 3 SD, kita tidak hanya diharapkan mampu untuk calistung, tetapi juga mampu memahami sejarah Indonesia di mata pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Di penghujung kelas 3 SD, pengetahuan kita juga diuji tentang mata pelajaran IPS. Ini juga semacam penagihan. Jika tak kunjung mampu? Sila pindah sekolah.
Anyway, ini contoh saya ambil ketika masih di zaman saya duduk di bangku SD. Sedangkan beberapa tahun terakhir, kurikulum untuk pelajar SD semakin kompleks a.ka makin sulit ha ha ha. Bayangkan sajah, saudara saya yang duduk di kelas 2 SD sudah diajarkan mengenai kebumian dan bahasa Mandarin! Sungguh,...

Kembali ke pembahasan pemilihan kata tagih. Tagih- ditagih, seolah menyiratkan bahwa ada yang harus kita bayar untuk menuntaskan tagihan. Layaknya tagihan PLN, jika lebih dari 10 hari tak kunjung dibayar, maka listrik akan dipadamkan. Dan akan dinyalakan kembali sampai tagihan PLN terbayarkan.

Mari kita refleksikan,
Mungkin sebagian dari kita (juga saya) seolah menanam kuat-kuat dalam otak bahwa hidup itu penuh tuntutan. Sehingga kita harus bekerja lebih keras, belajar lebih giat, berusaha lebih gigih untuk memenuhi tuntutan itu. 

Satu contoh sepele ketika seorang dosen bertanya kepada mahasiswanya alasan pengambilan mata kuliah yang beliau ampu. Tak sedikit yang menjawab "karena mata kuliah wajib, bu", "karena nggak tahu mau ambil apa, pak", "karena buat menuhin SKS, bu" bahkan "salah pencet, pak".
(Saya juga tidak jarang jawab demikian, sih. Ha ha ha)
Contoh di atas seperti terdengar bahwa mereka mengambil mata kuliah A karena tuntutan. Seolah tidak ada keikhlasan di dalamnya. Seolah merekapun sebenarnya tak memerlukan belajar tentang A, seolah andai saja mata kuliah A ditiadakan mereka pun masih bisa memahaminya, dan lainnya.

Contoh lain ketika bercakap-cakap dengan seorang kawan perihal alasannya yang tiba-tiba mengenakan jilbab. Dengan enteng dia menjawab "Sekarang lagi trennya berjilbab. Dan toh dengan berjilbab menyempurnakan syari'at agama, 'kan?"
Helooo? Yang benar saja! Berjilbab karena tuntutan tren? 

Eh coba saja kawan saya yang newbi berjilbab ini menjawab pertanyaan dengan "Iya, nih. Alhamdulillah aku sadar, harusnya aku berjilbab. Karena itu syari'at agama. Apalagi usiaku sekarang 25 tahun. Malulah, kalau nggak berjilbab."
Nah! Ini dia yang ditunggu! Dia telah menyadari adanya tagihan, bukan tuntutan. Agama menagih untuk para muslimah mengenakan jilbab, bukan menuntut. Dan sekali lagi, menagih mensyaratkan kita untuk membayarnya. Kalau tidak dibayar, selamanya akan jadi hutang. Ya, 'kan? 

Aduhaai, indah kali ya? Kalau masing-masing dari kita menyadari perjalanan kehidupan adalah proses untuk 'membayar tagihan'. Tagihan untuk siapa sih, Dian? Ya untuk Tuhan, untuk diri-sendiri, untuk keluarga, untuk masyarakat, untuk alam, untuk semua makhluk, untuk setiap kejadian. Dengan menanamkan '"ditagih" ketimbang "dituntut" pasti akan mengalir keikhlasan di dalamnya, pasti akan ada kesadaran untuk mengusahakan, pasti ada semangat untuk berikhtiar, pasti akan lebih getol berdoa. 

Refresh..
Berbicara mengenai celetukan teman-teman saya, saya menanggapinya sebagai suatu tagihan. Ketika dulu banyak yang berceletuk saya ini sok sibuk padahal nggak sama sekali, saya seperti ditagih untuk juga memikirkan diri sendiri. Sebagai contoh memelihara kesehatan. Perkara ini penting banget karena tanpa kesehatan mustahil melakukan aktivitas dengan lancar, ini contoh. Dan sekarang, kembali mereka berceletuk saya mulai selow, seolah menagih saya untuk tetap presisten dan konsisten untuk tetap beraktivitas positif.

Selalu ada hikmah di balik setiap kisah,
bersyukurnya kita sebagai manusia, selalu diberi banyak pilihan.


Suatu ketika seorang kawan yang sangat dekat denganku, dengan kehidupanku, berceletuk kalau aku adalah orang yang lemah. Bagaimana tidak? Aku sangat mudah untuk berlinangan air mata. Sangat mudah untuk menangis. Tidak hanya menangis ketika berbenturan dengan hal - hal sedih, berkecamuk, tetapi bahkan juga hal - hal yang lucu sekalipun. Aku sangat mudah untuk menangis. 

Entahlah, bagaimana bisa syaraf pusatku ini kok sangat mudah menggerakkan syaraf di indra penglihatan untuk mengeluarkan air mata.


Tetiba saja terlintas dalam benakku, mungkin memang aku orang yang lemah. Sekalipun di luar aku terlihat garang, mudah sekali berderai tawa, terlihat tanpa masalah setiap saat. Oh, sungguh saktinya aku. Bahwa mungkin aku semacam seorang berkepribadian ganda. (Eh tapi bukankah setiap orang demikian?)



"Hidup adalah tentang masalah - masalah, dan perjalanan melewatinya."

Sejatinya manusia hanya akan berkutat dengan dua hal di atas: masalah dan penyelesaian. Bisa kita bayangkan, seorang balita yang sudah harus berhadapan masalah menggerakan syaraf motoriknya untuk bisa berjalan. Seringkali dia menangis karena terjatuh dengan tiba - tiba. Lalu dengan berjalannya waktu, dengan dukungan orangtua dan dorongan dalam dirinya sendiri,  balita dapat berjalan. Dengan sangat baik, bahkan tak lama dia bisa berlari. Tidak puas sampai disitu, tentu ada tingkatan lanjut yang diinginkan oleh setiap manusia sekalipun dia masih balita. Ambillah contoh, setelah puas mampu berjalan, keinginannya berlanjut untuk dapat bersepeda. Dan tentunya, ada keinginan pasti ada kendalanya.


Renungkan, sejak kita kecil, kita sudah bersentuhan dengan masalah dan juga sudah akrab dengan bagaimana penyelesaiannya. Seiring berjalannya waktu, masalah yang kita hadapi semakin besar. Penyelesaian yang dibutuhkan pun tidak terbatas pada hal - hal kecil. Seringnya, butuh nyali atau keberanian untuk menyelesaikannya.



"Dan menurutku, keberanian itu terletak pada pikiran. Dan pikiran erat kaitannya dengan hati."

Hati itu bak samudra. Luasnya tiada tara. Samudra yang bersih, akan begitu indah. Samudra yang bersih, memberikan kehidupan panjang untuk biota laut. Samudra yang bersih, menyenangkan untuk setiap makhluk. Serupa juga dengan hati.


Pikiran sangat bergantung pada kondisi hati. Hati tak bisa terlepas dari bagaimana pikiran kita bekerja. Ketika mungkin dalam suatu masa, kita bertemu dengan seseorang yang telah lama membuat hati tersakiti, pikiran kemudian telah termindset bahwa orang itu buruk, orang itu jahat, tak pantas ditegur sapa, tak pantas ditolong, maka dapat dipastikan hatinya mengeras atau membara. Jika mungkin pikiran tak termindset demikian, bahwa setiap orang pasti pernah berbuat salah, bahwa setiap orang yang salah harus dimaafkan, bahwa setiap orang harus ditolong, maka dapat dipastikan hati benar - benar lembut, tak ada kerak atau bara disana.

Beberapa orang diciptakan dengan pikiran dan hati yang selaras, beberapa pula diciptakan dengan pikiran dan hati yang tak selaras.

Aku sendiri adalah orang dengan golongan kedua, pikiran dan hati yang tak selaras. Ketika aku mengerjakan suatu hal dengan resiko besar, pikiran acapkali menginstruksikan “jalani saja!” tetapi hati berbicara “Oh, bagaimana aku mampu?”

Jika sudah begitu, ALLAH satu - satunya tempatku mengadu. ALLAH adalah pemberi jawaban yang sempurna. Ketika jarakku denganNYA begitu dekat, aku merasakan suatu kemantapan hati yang luar biasa. Hingga aku begitu berani memutuskan suatu hal di luar nalar. Tapi ketika jarakku begitu jauh denganNYA, segala keputusan yang kuambil seringnya egois. Pikiran begitu memberingas. Hatipun jadi semakin tak tertata.

Pikiran yang seringnya liar ini tak selaras dengan hatiku yang mudah melunak. I mean, I have a braveness mind, very brave. I often set my mind to go out from comfort zone. But, how about my heart? It often just looking for a comfort zone.

Kalau sudah begini, aku benar - benar merasa betapa kecil dan tak ada digdayanya aku di antara jagad raya. Kalau sudah begini aku semakin sering datang menjemput ilham. Dan saat begini pula - lah, aku merasa ALLAH benar sayang padaku. Mengujiku pada kata pikiran dan kata hati yang seringnya berlawanan.

Pikiranku terus meliar, mencari kepuasan yang tanpa batas. Tapi seringnya hatiku menjadi suatu alarm. Jika sudah melebihi batas, maka hati akan memberi tanda tersendiri. Entah bagaimana caranya, misal saja menangis. Tiba - tiba.

Persoalan pikiran dan hati memang sangat sulit untuk diuraikan, untuk dicari benang merahnya. Banyak hal yang mempengaruhi keduanya, utamanya pengaruh dari lingkungan. Untungnya, manusia selalu dikaruniai banyak pilihan. Pilih yang baik atau buruk (?).

Kembali dengan celetukan kawanku yang mengatakan aku lemah karena sering menangis. Ini sebenarnya refleks hati. Aku pun juga tidak tahu. Suka aja gitu nangis dengan tiba - tiba, entah lagi seneng, sedih, atau lucu sekalipun.

Berbicara soal hati, siapapun pasti memiliki. Hati yang sedari tadi kuuraikan memiliki maksud: perasaan. Ketika pikiran membuana dengan bebas, tak pernah ada kata puas, maka justru hati-lah yang jadi pengendali.

Satu hal yang perlu kita tahu, hati itu rapuh. Bahwa orang sekaliber preman kota pun, ada saatnya akan menemui suatu keadaan dimana hatinya begitu rapuh, perlu untuk dibimbing. Hatinya begitu rapuh, hingga pikiran tak mampu bekerja normal. Dan bagiku,
"Ketika hatiku tak terbuat dari baja, Allah-lah satu-satunya Dzat yang menguatkan hatiku, lebih dari baja"

Hingga aku yakin pada apa yang dinamakan mukjizat dari masalah dan perjalanan hidup yang tak ada ujungnya. Dan baik hati maupun pikiran, keduanya bisa sama - sama berada di posisi sebagai pengendali atau sebagai  yang dikendalikan.






Alhamdulillah..
Segala syukur tak henti kupanjatkan kepada Allah, Tuhan Maha Esa yang menguasai jagad raya. Segala terimakasih tak henti kuucapkan kepadaNya, orangtua, sahabat, dan teman - teman. Tahun 2014 merupakan tahun penuh pencapaian besar. Juga tahun dimana banyak pasang surut yang kuhadapi. Banyak duka tangis yang kunikmati. Tapi juga banyak haru bahagia yang kujelang.

Aku selalu berprinsip untuk menjadi orang yang senantiasa bermanfaat setiap harinya. Entah, dengan cara apapun. Bagiku,  tiada yang lebih membahagiakan selain menebarkan kebermanfaatan untuk sesama.

Aku adalah tipe orang yang mengalir atas sebuah target. Tetapi terstrategi. Ya, meskipun ngalir harus tetap punya langkah - langkah nyata dan strategis untuk mewujudkannya, dong? :)
Aku masih ingat betul… Saat masih duduk di perkuliahan semester I, aku berujar panjang tentang keinginanku yang ingin mengikuti banyak organisasi. Mama menyetujuinya.

“ Nggak papa kamu ikut banyak organisasi. Nggak papa kalau kamu jarang pulang ke rumah nantinya. Tapi kamu harus janji sama Mama, kuliahmu jangan terbengkalai. Buktikan dengan IP - mu nanti, ya. Kamu juga jangan berprestasi di dalam kelas, tok. Tapi juga harus di luar kelas.”
Intinya dari apa yang disampaikan Mama, aku harus bisa bertanggung jawab atas keputusanku. Meskipun banyak organisasi tetapi prestasi harus tetap jalan. Seimbang.

Pesan Mama itulah yang memotivasiku hingga sampai detik ini. Terlebih aku adalah anak pertama dan juga cucu pertama. Terlebih aku bukan dari golongan keluarga bergelimang harta. Terlebih aku adalah anak broken home. Lengkap sudah. Aku harus menjadi teladan untuk adik - adikku nantinya.

Setiap hari harus lebih baik, setiap hari harus lebih berkualitas, setiap hari harus lebih bermanfaat. Kata - kata yang kubuat sendiri ini bak pelecut yang luar biasa dalam hidupku. Ya karena aku tidak ingin hidup sekedar hidup :)

Jungkir balik yang luar biasa benar - benar kurasakan di tahun 2014.
Banyak yang tidak tahu karena aku bukan tipe informan kesibukan diri sendiri.
Banyak yang tidak menduga karena aku bukan tipe orang yang bisa ditebak. Hehehehe.

Pencapaian yang diberikan Allah padaku di tahun 2014 sungguh besar! Tapi besar pula perjuangan yang dibutuhkan untuk mencapai pencapaian itu. Analoginya, seorang petani tidak akan pernah panen padi jika tidak pernah menanam dan merawatnya.

Ya, menanam dan merawat!

Ini dua kata kias yang penuh makna.
Menanam: menanam kebermanfaatan, menanam kebaikan, menanamkan semangat untuk diri sendiri, menanamkan keyakinan, menanamkan prinsip hidup, dan lainnya.
Merawat: merawat hati supaya tidak ‘berpenyakit’, merawat (menjaga) kebermanfaatan dan kebaikan diri untuk sesama, merawat semangat, merawat keyakinan, merawat prinsip hidup, dan lainnya.

Anyway, it’s just a simply way.

Dari 8 organisasi yang kuikuti sejak semester I, di tahun 2014 aku tersadar untuk memfokuskan diri pada beberapa organisasi dimana amanah yang diberikan padaku lebih besar dari organisasi yang lain. Dan pada akhirnya aku hanya berfokus pada 4 organisasi saja yaitu: Sebagai Ketua Divisi Teater Komunitas Seni Kehutanan, Ketua Divisi Humas Perisai Diri, Ketua Rubrik Tokoh Majalah Foresta, dan Volunteer Taman Karunia. Di luar itu sebenarnya aku juga masih mengikuti aktivitas nonformal di antaranya menjadi Sahabat Percepatan Pengembangan Kepemimpinan Mahasiswa dan menjadi anggota luar biasa Teater Gadjah Mada.

Di awal tahun 2014 aku sudah bekerja dengan program - program kerja yang kubuat bersama tim divisiku. Alhamdulillah, Allah membersamaiku dengan orang - orang yang bisa bekerja secara tim dengan baik. Allah memudahkanku untuk memimpin mereka.

Acara gathering anggota Perisai Diri UGM 2014

Nyelfie dulu di Kejurnas Perisai Diri 2013
Mewakili KSK dalam Forestry Got Tallent 2014. Alhamdulillah juara I.


Peluang datang tidak terprediksi. Beruntungnya kita, ada 2 opsi disini: Ambil dan berarti harus berjuang lebih keras lagi atau tinggalkan dan tak perlu harus berjuang lebih keras.

Bersyukur aku diberi keberanian oleh Allah. Untuk memutuskan ‘ambil’ itu bukan perkara mudah. Butuh keberanian yang tinggi, kawan. Keberanian untuk bertanggungjawab, keberanian untuk mengambil resiko, keberanian untuk berlapang dada jika hasil tidak sesuai. Ya, semua butuh keberanian J

Sebagai contoh, di bulan Maret aku diberi amanah untuk menghandle rubrik segmen tokoh untuk majalah Foresta, majalah Fakultas Kehutanan yang distribusinya sudah di berbagai penjuru. Di saat masa - masa wawancara dengan tokoh kami, seorang teman menawariku untuk mengikuti seleksi Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) tangkai Monolog tingkat Universitas. Dimana 2 peserta terbaik akan mewakili UGM dalam ajang Peksimida DIY. Great! Ini salah satu targetku juga! Lantas bagaimana?

Ambil.

aktor terbaik Peksimida DIY :)


Ya, aku mengambil peluang itu. Lantas bagaimana amanah di majalah Foresta dan organisasi yang lain? Padahal untuk mengikuti seleksi itu, diperlukan latihan.
Aku tetap menjalankan tugasku juga. Toh latihan monolog tidak setiap hari. Dan juga, aku memiliki tim yang bisa kudelegasikan. Tentu kita telah mengenal istilah penanggung jawab, ya. Tapi pengawasan dan kontrol untuk tim tetap kulakukan juga, dong :)

Lantas bagaimana dengan kuliah?

Kuliah itu bukan kesibukan, melainkan kewajiban.

Mau tidak mau, aku harus tetap berkuliah dengan baik karena Mama membiayaiku di UGM untuk berkuliah. Bukan untuk berorganisasi.

Yang biasa kulakukan ketika kuliah berlangsung:
1)      Mencatat pemaparan dosen. Bukan sok rajin. Tapi ini sungguh lebih baik ‘kan ketimbang duduk bengong nggak jelas dan ujung - ujungnya ngantuk? Apalagi aku gampang banget ngantuknya! Hahahaha. Eh tapi pernah kok, di tahun 2014 ini aku tidur di dalam kelas. Mimpi pula! Parahnya saat itu aku duduk di bangku paling depan, dekat dengan meja dosen. Dan sang dosen itu membangunkanku. Aku terhenyak. Pening. Ini mimpi atau apa sih? Kok suara orang ketawa heboh banget? Taunya nyata! Keterlaluannya… Akupun cengar - cengir nggak jelas. Tapi bersyukur, punya pengalaman luar biasa gini.

2)      Aktif. Bukan sok pinter. Tapi ini memang cara ampuh menggaet hati dosen! :D
Kalau dosen tanya tentang suatu hal, dan ketika suasana itu lagi hening, aku selalu mengusahakan untuk menjawab. Sekalipun jawabannya sudah kuyakini mlengse, tetap saja kucoba jawab. Pada akhirnya dosen akan memaparkan juga, kan? Itu salah satu contohnya.

3)      Berburu materi. Bukan sok rajin. Tapi ini sungguh penting! Ibarat kata, materi kuliah adalah senjata untuk berlaga di medan perang. Untuk senjata menghadapi quiz, tugas, dan ujian.

4)      Diskusi. Bukan sok tahu. Tapi diskusi ini penting untuk mengukur seberapa jauh kemampuan kita. Nah, pasti ada celah kita menemui ketidaktahuan itu. Dan biasanya aku bergegas bertanya kepada teman - teman yang pengetahuan mengenai kuliahnya lebih advance.

Ada praktikum? Laporan?
Aku juga! Haha.
Tapi lagi - lagi itu kewajiban. Nah, untuk mengerjakan laporan, nih. Aku sering mengerjakan laporan di sela - sela istirahat latihan teater, di sela - sela istirahat suatu acara yang ku-handle, dan yaa.. intinya sih fleksibel.  Yang terpenting kita sudah menanamkan prinsip bahwa kuliah itu kewajiban. Maka alam bawah sadar pasti akan selalu tergerak untuk menuntaskannya.

Organisasi sudah, kuliah sudah. Ada satu amanah Mama lagi: prestasi. Yang kuanggap itu bonus atau award dari Allah.

Hampir semua bonus yang kuterima, diperoleh dari memanfaatkan peluang. Dan lagi… peluang identik dengan resiko dan butuh keberanian. Untungnya Allah selalu meyakinkan hatiku bahwa pasti aku bisa mengambil peluang dan meminimalkan resiko. Untungnya Allah memberiku keberanian yang lebih.

Maka dari itu, selain aku berkuliah dan berorganisasi… Aku juga sering meluangkan waktu untuk menengok info - info lomba seperti lomba menulis cerpen, lomba menulis karya ilmiah, lomba teater, dan juga kegiatan pertukaran pelajar. Sering aku mengikuti event semacam ini. Tapi tidak jarang juga aku gagal.

Apakah aku sakit hati? Frustasi?

Tidak.

Hal - hal semacam lomba dan sejenisnya itu merupakan momen ketidakpastian. Mungkin saja kita gagal. Mungkin juga kita berhasil! Intinya jangan pernah memblokade pikiran “Ah, kalo aku lomba 'itu', kita kan nggak tahu menang atau kalah. Kalo aku bikin paspor buat daftar exchange, kita kan nggak tahu berangkat atau nggak. Takut sia - sia.”

Heloooooooooowwww? Inilah hidup! Itu salah satu bentuk ketakutan. Dan ketakutan menatap masa depan hanya akan membuat kita kerdil, tidak berkembang, dan tidak berhasil. :)
So, jadi, jangan pernah memblokade pikiran negatif macam begitu. Kalau ingin banyak pencapaian yang kita dapatkan, manfaatkan peluang! :) 


Juara II Umum Porsenigama Cabang Monolog 

Juara III Umum Kompetisi Nasional Mitigasi Bencana. Bersama adik kandung (beralamamater UGM) dan panitia (tengah).
Terkadang  saya suka ne-MC, lo :D


Terkadang  saya suka ne-MC, lo :D

Buku ke 1, 2, 3

Launching buku ke 3, novel pertama :)

Nonimator 17 Penulis Terbaik

Kyoto, 2014


Selanjutnya.. Setelah urusan kuliah, organisasi, prestasi… Satu hal yang biasa kulakukan sebagai salah satu bentuk rasa syukurku kepada Allah adalah dengan mengunjungi teman - teman Panti Asuhan Bina Siwi dan Yayasan Himmatu. Berbagi apa yang kumiliki dan bisa kubagi. Ingat, menanam dan merawat. Dua kata penting untuk berujung pada kata memanen. Tanam dan rawatlah kebaikan agar bisa kau panen kebaikan nantinya :)

Bersama teman - teman kampus di Yayasan Himmatu, Bantul, Yogyakarta


Ada beberapa orang yang ingin mengetahui jungkir balikku. Sehingga olehnya di tahun ini aku diundang menjadi pembicara beberapa acara. Alhamdulillah, kesempatan memberi manfaat lagi.

Apakah aku nggak pernah main?
Wow, siapa bilang? Aku juga main, kok :p Mainnya ya sambil kegiatan, lomba, dan sebagainya. Eh tapi sekali waktu aku juga melakukan eksplorasi alam looh. Seperti eksplorasi pantai - pantai di Yogyakarta, eksplorasi Solo, eksplorasi Semarang, eksplorasi Boyolali, dan sebagainya.

Dan di penghujung tahun 2014, Allah memberi saya bonus yang luar biasa mewah :')


----------------
Pada akhirnya tulisan ini berujung pada ajakan untuk hidup tidak sekedar hidup. Untuk hidup yang lebih bermanfaat. Hidup hanya sekali, masa muda hanya sekali. Masa muda adalah masa yang tepat untuk mengakselerasi keberhasilan di masa depan.

Silakan saja jika tidak menyetujui gagasan dan isi tulisan ini. Hidup itu penuh perspektif, kok :)
Tulisan ini saya buat atas dasar kesadaran saya untuk berbagi pengalaman. Juga menjadi pengingat saya pribadi, bahwa perjuangan hidup tidak pernah berhenti sampai tiba saatnya Allah menghentikan hidup saya di dunia.Saya juga tidak tahu bagaimana nanti masa depan saya. Sehingga olehnya, saya wajib mempersiapkan segala sesuatunya dari sekarang. 

Jika ada yang menilai tulisan ini menginspirasi, Alhamdulillah. Mari sama - sama saling menginspirasi. Jika ada yang menilai tulisan ini adalah wadah saya untuk menyombongkan diri atau riya', mohon maaf. Anda harus kenalan dulu dengan saya dan hati - hati jangan - jangan itu indikasi dengki, penyakit hati yang bisa menghapus kebaikan.Hehehe..

Terimasih sudah membaca...
 Salam semangat. Salam manfaat :)


Ramadhan kali ini benar - benar penuh berkah dan hidayah. Alhamdulillah, di bulan sangat disucikan Allah ini saya sakit.

Wehehehe. Sakit kok Alhamdulillah..

Iyalah, ini sakit bukan sembarang sakit. Ini sakit ada cerita yang sangat fenomenal di dalamnya. Naaah, mau tau ceritanya gimana? Sudah siaaap? Sudaah? Okay, let’s read together ;)

Berawal di bulan Juni 2014, saya mendadak mengalami mual yang luar biasa. Nggak cuma mual, geng! Tapi juga rasa nyeri di ulu hati dan perut bagian bawah sebelah kanan. Tepatnya di sekitar bawah pusar. Rasa nyeri itu kemudian menjalar ke pinggang, pangkal paha dan paha.

Saya sih waktu itu mikir kalau ini gejala PMS (kebetulan saya wanita). Jadi antisipasi yang saya lakukan adalah menambah porsi makan dan tidur. Rasa itu kemudian hilang beberapa hari, tepatnya sampai minggu tenang pra ujian akhir. Syukurlah, minggu tenang saya bisa tidur eh belajar dengan tenang.

Syukur syukur sakitnya sudah hilang, eeh pas hari H ujian akhir, sakit itu melanda lagiiii! Ya Allah, ujian yang berlipat - lipat harus saya terima di akhir bulan itu. Baiklah, hidup yang kujalaniii.. masalah yang kuhadapiiiii… semua yang terjadiii, pasti ada hikmahnyaaa… Dian, fo-kus.

Nah, bayangin geng.. saat itu saya mengalami sakit yang luar biasaah! Dan saya juga harus mengerjakan soal - soal ujian akhir yang nggak kalah luar biassaahnya (apalagi soal ujian *ehem* dasar - dasar ekonomi kehutanan).

Waktu itu saya nekat berpuasa juga. Saya yakin seyakinnya, puasa justru akan memberi kesehatan  untuk tubuh saya. Yuhuu! Dan keyakinan saya berbuah manis saat saya berhasil menuntaskan ujian akhir tanpa efek samping apapun! Tanpa nangis. Tanpa pingsan.. Jadi tanpa harus ikut susulan. Alhamdulilllah… ^_^

Oke singkat cerita…

Tanggal 19 Juli 2014. Pagi itu tepatnya pukul 9, perut saya bergejolak. Muaaaaaaal bangett. Mau muntah kagak bisaa. Masih untung gitu ya kalo ada yang keluar dari perut ini. Setidaknya lebih ringanlah. Saya mencoba uek-uek in, tapi masih aja nggak bisa. Duh, mewek saya jadinya. Yang saya rasakan waktu itu sama persis yang saya rasakan waktu di bulan Juni lampau. Tapi lebih… lebih parah!

Perut bawah bagian kanan saya seperti dihujam bamboo runcing. Sakitnyaaa maak, minta ampun! Huhuhuhu. Kemudian kesakitan tadi merembet lagi, ke pinggang, pinggang belakang, pangkal paha, terus kaki kanan seluruhnya.  Keluarga sih belum ada yang tahu soal ini. Saya memang sengaja memendamnya. Takut keluarga bakal syalala huwo huwoo (read: panik super).

Langkah pertama yang saya ambil saat itu adalah GOOGLING. Yeah. Ini  sudah jadi pedoman bagi semua umat (kan?). Google seakan menjadi dokter andalan ketika gejala sakit menyerang. Ketik gejalanya, enter, dan kemudian Google akan memberikan penjelasan apa sebenarnya yang telah kita hadapi dan alami saat itu *halah. Yan, fokus yan.

Setelah memasukkan keyword semidekian rupa, muncullah beberapa tulisan. Dan yang paling banyak tulisan yang muncul adalah mengenai usus buntu. USUS BUNTU?!

Oh tidak. Tidak mungkin! Semasa kuliah  aku memang mengonsumsi penyetan dan burjo! Tapi apa boleh buat? Aku telah berusaha semampuku untuk makan makanan yang lain. Tapi perut ini menolaknya! Dan sekarang anda berkesimpulan aku mengidap usus buntu. Tidak! Tidak mungkiiiin! *jedeerr*

Begitulah, tetiba saja saya hopeless. Geng, usus buntu itu menyeramkan!

Keesokan harinya, sakit yang saya rasakan semakin menjadi. Saya tidak bisa bangkit dari tidur. Luar biasa sakitnya di perut bawah bagian kanan ini. Saya pun meraung - raung. Keluarga panik bukan kepalang. Dibawanyalah saya ke rumah sakit daerah. Di sana, dokter melakukan cek lab berupa cek darah dan cek urin. Katanya sih untuk cari tahu apakah ada infeksi atau tidak.

Jeng jeng jeng..
Dari hasil cek darah, darah saya bagus dan normal.
Dari hasil cek urin…. Mengatakan bahwa ada tumpukan oksalat dalam ginjal saya.



Bersambung ke The Unspoken #2


Catatan: Sakit bukan alasan untuk tidak menulis, bukan alasan untuk tidak berkarya J

Assalamu'alaykum wr.wb

Kenalan lagi ya disini? Nama saya Dian Yuanita Wulandari. Asal Boyolali (Jawa Tengah) dan sekarang berdomisili di Yogyakarta. Saya salah satu mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM yang punya cukup banyak hobi di antaranya menulis, bermain teater, dan membaca puisi. Nah, untuk reader yang (mungkin) bingung cari pengisi acara, bisa lho undang saya sebagai pengisi acaranya. hehehe :D

Ragu dengan saya? Perlu bukti? Hehehe. Baiklah, akan saya ceritakan sekelumit saja. Saya sudah pernah mengisi acara di tingkat Fakultas, Universitas, Regional dan Provinsi. Untuk membaca puisi saya pernah mengisi di beberapa seminar tingkat Fakultas, di Rektorat UGM, di sekolah-sekolah, dan random. Untuk teater, saya pernah tampil di beberapa acara tingkat Fakultas, tingkat Universitas, tingkat Regional (Yogyakarta dan Surakarta),dan tingkat Provinsi (Semarang). Kebetulan saya juga dinobatkan menjadi Aktor Terbaik tingkat UGM di tahun 2013, lho.Hehehe..

Oh iya, saya juga bisa nih berpuisi dalam bahasa Jawa (Geguritan) :)
Sewaktu SD sampai SMA saya sering mengikuti lomba Geguritan. Dan alhamdulillah sudah pernah menjuarainya di tingkat Kabupaten. Terlalu mainstream dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris? Pakai saja bahasa Jawa. Sekalian nguri - nguri kabudayan :)

Berikut ini adalah beberapa dokumentasi yang dapat saya tunjukkan kepada reader (sebagian dokumentasi tidak ada di tangan saya, huhu sediih).

Doc DY 1. Teater di Bunderan UGM

Doc DY 2. Teater di Kehutanan UGM

Doc DY 3. Teater di PORSENIGAMA 2013

Doc DY 4. Teater di PEKSIMIDA DIY 2014



Doc DY 5. Mengisi Acara di Yayasan HIMMATU, Yogyakarta

Doc DY 6. MC di Gathering PD UGM
Doc DY 7. MC di HUT PD UGM 2012

Doc DY 8. Teatrikal di 0 Km, Yogyakarta

Doc DY 9. MC untuk Pesilat PD UGM di GCN 2014

Doc DY 10. Ini waktu launching novel saya yang pertama



Dear reader,
Mungkin eksplisit acara yang bisa saya isi sebagai berikut:
- Seminar
- Gathering
- Reuni
- Halal Bihalal
- Ulang tahun
- Dan lain - lain

Reader bisa tentukan sendiri jenis penampilan yang akan saya bawakan. Nah tidak hanya itu, saya juga bisa jadi MC lho. Untuk charge (biaya panggung) seikhlasnya saja :)

Tertarik? Yuk, undang saya lewat telepon atau sms: 085-643-998-338.
Terimakasiih :)